Mungkin kita sudah tidak asing dengan Labuan Bajo, sebuah kota kecil yang menyimpan sejumlah harta karun tak terduga di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Labuan Bajo sekarang menjadi salah satu destinasi wisata yang tidak boleh dilewatkan, baik oleh warga domestik maupun non domestik, katanya, tempat ini menyimpan banyak sekali keindahan yang mungkin tak bisa kita lihat di mana pun. Bahkan menurut Wonderful Indonesia, Labuan Bajo adalah ‘Sepetak Surga’ yang terletak di bagian timur Indonesia. Jadi, untuk membuktikan pernyataan itu, saya mendatangi Labuan Bajo pada Desember 2022.
Labuan Bajo berhasil memberikan pengalaman tak terlupakan setelah menjelajahinya selama empat hari tiga malam. Saya yang awalnya sudah sangat penasaran dengan Labuan Bajo ini menganga ketika melihatnya dengan mata kepala sendiri. Saya yang sangat menyukai pemandangan alam pun langsung berpikir satu hal, “nggak salah datang ke sini.”
Selama beberapa hari, saya tinggal di dalam kapal dan mendatangi beberapa pulau yang cantiknya minta ampun. Mulai dari Pulau Kanawa, Pulau Padar, Pantai Merah (Pink Beach), Pulau Manjarite, Pulau Taka Makassar, hingga bertemu dengan hewan purba Indonesia yang sangatlah terkenal, Komodo, di Taman Nasional Komodo. Dari pulau-pulau tersebut, Pulau Padar, Pantai Merah (Pink Beach), dan Taman Nasional Komodo-lah yang paling bikin saya terkesan.
Pulau Padar adalah pulau terbesar ketiga di kawasan Taman Nasional Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca, habitat hewan komodo. Meskipun dekat dengan dua pulau habitat reptil terbesar di dunia, komodo tidak menghuni pulau ini sehingga tempat ini aman dari serangan hewan tersebut. Pulau ini bertopografi seperti perbukitan dengan tiga teluk yang memiliki karakteristiknya sendiri. Pasir dari ketiga teluk tersebut bermacam, yaitu, hitam, pink, dan abu-abu. Di pulau ini, saya mendaki sebanyak 800 tangga untuk bisa melihat pemandangan yang tentu tidak mengecewakan itu. Rasa lelah akibat pendakian pun rasanya tidak ada apa-apanya setelah sampai di puncak.
Setelah Pulau Padar, tempat berkesan lainnya adalah Pink Beach atau Pantai Merah. Awalnya saya sempat berpikir bahwa itu hanyalah nama saja dan kondisi pantainya sama seperti pantai pada umumnya. Namun tidak, pantai tersebut benar-benar memiliki pasir berwarna pink. Saya pun bertanya pada tour guide dan ternyata pasir tersebut bisa menjadi warna pink karena adanya terumbu karang merah yang memang ada banyak sekali di sekitar pulau. Terumbu karang tersebut terseret oleh ombak ke pesisir, mengalami pengikisan, dan tercampur dengan pasir putih di sana sehingga warnanya berubah menjadi merah muda. Saya yang sudah kagum dengan hal tersebut, semakin kagum dengan tekstur pasirnya yang sangat lembut. Menurut saya, dari semua pantai yang didatangi, pantai inilah yang pasirnya paling lembut dan nyaman sehingga bisa berjalan di sana tanpa alas kaki. Dan hal yang membuat saya semakin menyukai pantai ini adalah kebersihannya yang sangat terjaga. Selama di sana, tidak ada satu pun sampah yang terlihat, membuat saya tidak ragu untuk bertelanjang kaki.
